Rindu
Seorang Pembaris
(Subekti
Ainur Rofiq)
Aku
adalah seorang pemuda bernama Rofiq, aku lahir di Jakarta, tetapi aku
dibesarkan dalam lingkungan Budaya Jawa, karena kedua orang tuaku berasal dari
Jawa Tengah. Dari kecil aku selalu diajarkan oleh orang tuaku tentang
pentingnya sopan santun dan menjunjung tinggi toto kromo yang baik terhadap
sesama, itu merupakan suatu karakter khas dari masyarakat Suku Jawa. Bukan
hanya hubungan baik terhadap sesama manusia saja, tetapi juga aku tidak
melupakan Allah subhanahu wa ta’ala sang pencipta dengan beribadah kepada-Nya. Aku sangat mudah bersosialisasi
dengan orang lain dan juga memiliki banyak teman, walaupun begitu tetapi aku
hanya memiliki dua sahabat terdekat yang
menurutku penting di dalam hidupku, aku yang sekarang duduk di bangku SMA
tiba-tiba teringat dan rindu dengan mereka.
Kegiatan
MOS SMP (masa orientasi sekolah sekarang MPLS ) pun sudah dimulai, aku menjadi
salah satu peserta MOS. Sekolahku tidak jauh dari rumahku, jadi aku bisa santai
ketika berangkat dan pulang sekolah, ketika mos aku bertemu wajah-wajah asing
yang belum aku kenal walaupun ada juga teman se-sd tapi tidak terlalu banyak,
walaupun begitu aku merasa biasa saja karena aku mudah sekali akrab dengan
siapa saja. Seiring berjalannya waktu, aku semakin akrab dengan teman baru, aku
tidak memandang latar belakang mereka, siapa saja aku bias berteman, dari anak
nakal, anak metal, anak gaoel sampai anak pintar yang biasanya disebut sebagai kutu
buku, dan juga anak biasa-biasa saja sepertiku. Ketika mos berlangsung aku
mulai tertarik dengan suasana kelas, walaupun baru sehari bertemu tetapi
langsung hidup suasananya, salah satunya ketika teman baruku, Yadi yang mukanya
biasa saja, tetapi mukanya melas dan juga ngeselin seperti tampang copet,
tetapi agak mirip dengan pelawak.
Pada
saat itu ketika kakak osis yang memandu MOS sedang berbicara didepan kelas,
tiba-tiba ia marah-marah dengan salah satu murid ternyata ia marah kepada Yadi,
” kamu ngapain ngetawain saya? Emangnya ada yang lucu? Kalo ada yang ngomong
didepan itu didengerin bukan diketawain”. Marah kakak osis itu dengan nada
tinggi.
Yadi
sontak kaget, dan seluruh siswa yang ada di kelas juga kaget, “hah… ssss..siapa
kak? Saya ga ketawa, bibir saya lagi sariawan jadi kaya orang ketawa”. Jawab
jayadi dengan tegang.
“ngejawab
aja lagi kamu, saya tau tadi itu kamu ngetawain saya, ga usah ngeles kamu”.
Jawab kakak osis itu.
Kringggggggggg…….. bel pulang sudah berbunyi, MOS
hari pertama sudah selesai, bel pulang mencairkan suasana, menjadi tidak tegang.
Hari-hari
mos sudah kulewati, aku semakin akrab dengan teman temanku, banyak dari mereka
yang bercerita tentang kehidupannya di sd dan mengapa mereka memilih SMP ini,
dan juga banyak pergaulan yang asing menurutku, aku yang tidak pilah-pilih
dalam berteman malah kebablasan bergaul, memang tidakada salahnya bergaul
dangan siapa saja.
Sabtu
pagi, hari libur sekolah tetapi tidak untuk ekskul. Pada saat itu, aku memilih
ekskul marching band disitu juga Yadi memiilih ekskul yang sama, aku semakin
akrab dengan Yadi, berlatih bersama dengan teman-teman lainnya. ketika selesai
ada salah satu kelihatannya si anak nakal dia tiba-tiba menyeletuk
mengajak nongkrong, teman temanku yang lain pun setuju dengannya dan mau ikut
nongkrong, tetapi tinggal aku Yadi yang
belum memutuskan mau ikut atau tidak. Keputusan Yadi sudah bulat ia tidak mau
ikut, tetapi aku masih labil, teman-temanku yang lain mengomporiku agar aku
mengikuti mereka dengan alasan supaya bisa lebih akrab main bersama, tetapi Yadi
membisikkanku agar aku tidak ikut, menurut dia ngapain ikut kalau tujuannya
tidak jelas. Tetapi aku memutuskan untuk ikut teman-temanku yang lain.
Aku
diajak teman-temanku kesuatu tempat kosong di sekitar belakang sekolah dan
tidak jauh dari rumahku, sesampainya disana salah satu temanku bernama Dodo
mengeluarkan sebungkus rokok, dia memberikan sebatang rokok untuk setiap anak
termasuk aku. Aku yang seumur hidup belum pernah merokok merasa heran dan takut
untuk melakukannya, ternyata benar perkataan Yadi kalau ga ada tujuan yang jelas mending ga
usah ikut. Pikiranku semakin kacau karena aku baru menyadarinya kalau lokasi
tempat nongkrong tidak terlalu jauh dengan rumahku
”Duhh
gimana nih kalo nanti ada abang gua
lewat atau orang tua gua tau bisa gawat ini.” Ucapku dalam hati.
Kemudian
aku mencari cara untuk pergi dari tempat ini. Aku berpura-pura mengecek
ponselku dengan alasan orang tuaku menyuruhku pulang karena ada kepentingan
darurat. Asap rokok semakin mengebul seperti kebakaran hutan di Riau karena
semua teman-temanku sudah menyalakan rokoknya. Tinggal aku sendiri yang belum
menyalakan rokok. Hanya aku yang diam di sana, karena memikirkan bagaimana
caranya agar aku menghindar dari mereka yang sedang merokok. Teman-temanku juga
mulai memperhatikanku dan rokok yang sedang aku pegang.
“Lu
kenapa fiq diem aja? Bukannya dibakar tuh rokok, malah dianggurin aja.” Tanya
Arifin teman akrabnya Dodo yang dari tadi memperhatikanku.
Kemudian
aku memberanikan diri untuk bilang ke temanku yang sedang asik merokok. ”ohh
engga bro… btw, sorry ya gua pulang duluan, soalnya orang tua gua tadi sms ada
kepentingan darurat.”
“Yahhh..
baru sebentar, udah pulang aja.” jawab si Dodo yang sedang duduk santai di
samping Arifin sambil mengeluarkan asap rokok dari hidungnya.
“hehe, iya nih, Do, orang tua gua yang manggil
soalnya, nih rokoknya buat lu aja,” perkataan terakhirku berusaha untuk
menghindari mereka dan mengembalikan rokok. Kemudaian aku bergegas untuk
pulang.
Hari
senin pun tiba, saat bel istirahat aku melamun di kelas, tidak seperti
biasanya, tiba-tiba Yadi menepuk pundakku, dan itu membuatku kaget “ngapain lu
pagi pagi udah bengong? Abis diputusin cewe?” Tanya Yadi membuatku kaget.
“Gua
masih kepikiran kemarin waktu nogkrong, gua diajakin ngerokok, untungnya gua
bisa menghindar,”Jawabku dengan penuh penyesalan.
“Kan
udah gua bilang ga usah ikut, gaada tujuan yang jelas,” Yadi menyesalkan
diriku.
“Begini
bro, berteman tuh boleh sama siapa aja, tapi lu harus inget jangan terlalu
deket sama orang yang ga punya tujuan yang jelas.” Sambung jayadi dengan menasehatiku.
Aku terdiam dan berusaha mencerna perkataan Yadi.
“udah gausah dipikirin, ayo anterin gua ke kantin, laper nih”. Perkataan Yadi menenangkan
pikiranku.
Semakin
hari aku semakin akrab dengannya, karena ia orangnya jujur dan juga lumayan
pintar dan juga sederhana. sama sepertiku ia bukan anak dari kalangan elite
yang biasa dengan kemewahan, kami
hanyalah orang pinggiran Jakarta yang tinggal di lingkungan padat dan kumuh, tetapi
kami selalu bersyukur, walaupun anak-anak yang tinggal di lingkungan kami
sangat rendah akan motivasi belajar, tetapi kami memiliki tujuan yang sama,
yaitu sukses bersama dengan mengejar prestasi setinggi-tingginya.
Hari-hari
pun berlalu dengan cepat, kami yang berjuang bersama dalam belajar tidak
henti-hentinya bersaing dengan ketat, tapi secara sehat. Terkadang ia
mendapatkan nilai lebih tinggi dariku dan kadang-kadang juga aku yang
memperoleh nilai yang lebih tinggi darinya. Pada semester 1 aku kalah
dengannya, ia mendapatkan pringkat 5 besar, sedangkan aku? 10 besar aja ga
dapet wkwk. Oke gapapa ini baru semester awal, akan aku balas nanti di semester
selanjuutnya.
UAS
semester 2 pun sudah berlalu, hingga akhirnya tiba lah saat pengambilan raport
semester 2. Aku yang merasa tegang
ketika menunnggu penyerahan raport oleh wali kelas. Ternyata bukan aku
saja yang tegang, teman-teman yang lainnya pun juga ikuut tegang, bahkan lebih
tegang dariku. Wali kelasku, sebelum penyerahan raport, Bu Ririn memberi arahan
kepada orang tua yang mengambil raport anaknya, hingga pada akhirnya ia
mengumumkan nama-nama anak yang mendapatkan pringkat 10 besar. Ia menyebutkan
nama-nama dari pringkat 10 sampai pringkat 1. Keadaan semakin menegangkan dan
membuatku tak bisa menahan keringat dingin dan rasa kebelet pipis karena namaku
belum juga disebut sampai 3 besar. Sedangkan Yadi masih bertahan seperti
semester lalu yaitu di pringkat ke 5. Setelah itu aku memutuskan untuk pergi ke
toilet karena sudah tidak tahan. Setelah kembali dari toilet tiba-tiba
teman-temanku bersorak menghampiriku dengan memberikan selamat, aku merasa
heran apa yang terjadi ketika aku sedang berada di toilet.
Ahmad
salah satu temanku menyeletuk, “ditunggu ya, Fiq traktirannya hehe.”
“traktiran
apa? Gua kan ga ulang tahun hari ini.” Jawabku dengan bingung.
Lalu
Ridwan temanku yang jago bermain bola bilang “lu dapet pringkat 1, Fiq.
Ditunggu ya traktirannya!”.
Kemudian
aku mengucap sukur Alhamdulillah bisa mendapatkan pringkat pertama di semester
2 ini.
Kelas
7 pun sudah berlalu, dan sekarang aku berada di kelas 8. Senang sekali bisa
naik ke kels 8, tetapi aku merasa ada yang kurang, karena kelas di acak lagi
sehingga aku tidak sekelas dengan Yadi. Di kelas 8 aku sekelas dengan orang
yang pendiam namanya Mamat, dia orangnya pandai apalagi dalam pelajaran
matimatika. Tetapi Mamat tidak pandai dalam bergaul, terkadang ia duduk
menyendiri, aku pun merasa kasihan, sehingga aku berusaha untuk mengajaknya
ngobrol dengannya. Terkadang juga ia menyendiri sedang mengerjakan soal
matematika, pantas saja dia selalu mendapat nilai tertinggi dalam pelajaran
matematika.
Aku
dan Yadi yang sudah lama tidak iku ekskul marching band tiba-tiba saat istiahat
jayadi mengajakku untuk ikut ekskul Paskibra. “fiq, lu ga ikut ekskul
apa-apakan?”
“Nggak,
Di, kan dulu kita ikut marching band dan sekarang udah berhenti. Emangnya
kenapa?” jawabku.
“Gimana
kalo kita ikut ekskul paskibra?” ajak Yadi.
“Apa?
Paskibra? Ga salah lu? Ga mau ah ntar gua item kaya lu.” Jawabku menolak mentah
begitu saja.
“Yaudah
kalo ga mau, biar nanti kalo ada cewek cakep di paskib biar buat gua aja.” Jawab
Yadi dengan nada yang sepertinya agak ngambek karena aku ga mau ikut.
Cuaca
di luar kelas sangat panas ditambah suara bel yang bising membuatku semakin
muak dengan tawaran Yadi mengenai Paskibra.
Ketika
bel pulang sekolah.“Fiq, lu ikut ekskul apa? Tanya Mamat yang membuatku heran
karena ia jarang sekali bertanya sebelumnya.
”Gua
ga ikut ekskul ap-apa mat” jawabku dengan heran.
“Hmmm..
gua mau ikut ekskul Paskib nih soalnya badan gua lumayan tinggi kayanya itu
cocok buat gua.”Ucap Mamat.
“Ohh…
lu pengen masuk Paskib, Mat, nanti gua tanyain temen gua dia juga mau masuk
paskib.” Jawabku.
“eh..
itu Yadi temen gua yang mau daftar paskib, ayo ikut gua!” sambungku, sambil menunjuk
lapangan dan mengajak Mamat untuk bertemu Yadi di lapanngan.
Yadi
dan Mamat telah resmi menjadi anak paskibra, tinggal aku seorang yang belum
ikut ekskul apa-apa. “it’s okay gua ga ikut ekskul apa-apa, setidaknya gua bisa
belajar dengan tenang, ga buang-buang waktu dan juga ga buang-buang tenaga
lebih ekstra.” Ucapku ketika ketika selesai mengerjakan pr. Jarum jam sudah
menunjukkan pukul 23.00, aku bergegas untuk siap-siap tidur tetapi tidak lupa
menggosok gigi dan berwudhu ketika mau tidur.
Keesokan
harinya setelah pulang sekolah, aku melihat pasukan paskibra sedang berlatih
paskib bersama dibawah terik matahari sore dan juga disana ada Mamat dan Yadi. aku
pun berfikir bahwa berlatih bersama di paskib bisa mempererat tali
persahabatan, kemudian aku memutuskan untuk mencoba ikut ekskul paskib.
Sekarang
aku resmi menjadi anak paskib seperti Mamat dan Yadi. Setelah beberapa lama aku
mengikuti ekskul paskib, dan juga bisa
menguasai gerakan paskib 12 gerakan dasar(sikap sempurna, istirahat, lencang
kanan, lencang depan, berhitung, hadap kanan, hadap kiri, balik kanan, hadap
serong kanan, hadap serong kiri, jalan di tempat, dan hormat) ternyata itu tidak buruk, tidak seperti yang
aku pikirkan sebelumnya. Karena pikiran manusia itu selalu berubah-ubah,
alangkah baiknya jika dicoba dahulu baru memberi komentar hehe. Menurutku
walaupun paskib latihannya panas-panasan bikin item bikin capek dan juga
apa-apa ada aturannya tapi banyak pelajaran yang dapat diambil dari semua itu,
terutama rasa kerbersamaaan lebih terasa, melatih kedisiplinan, dan juga bisa
membuat bangga ketika berhasil mengibarkan sang saka Merah Putih, yang ga kalah
pentingnya adalah mendapatkan banyak fans, menjadi pembaris yang hits hehe…
Hari-haripun
kita lewati bersama dan sampai saat kini Aku, Mamat, dan Yadi pun menjadi
sahabat. serasa Paskibra menyatukan kami bertiga, aku bersyukur mengikuti
ekskul Paskibra dan bisa bersahabat dengan mereka. Latihan kami jalani bersama,
lelah, letih, dan panas yang terik kami jalani bersama, kami sudah siap
menanggung semua itu. Biasanya kami bertiga setelah pulang Ekskul makan bareng
di luar dan terkadang juga di rumahku, karena rumahku-lah yang paling dekat
dengan sekolah dibanding mereka berdua, itu bisa mempererat rasa kebersamaan
menurutku.
Tak
terasa persahabatan kami telah berlangsung selama satu tahun, kini kami telah menginjak di kelas 9, sebagai
siswa kelas 9 kami dan teman-teman lainnya pasti akan menghadapi berbagai
ujian, mulai dari UAS, Try Out, US, dan yang terakhir adalah UN, yang menjadi
momok menakutkan bagi siswa di jenjang akhir seperti kelas 6, 9, dan 12.
Peraturan di sekolahhku melarang siswa aktif ekskul di kelas 9 dengan berdalih
agar siswa tetap fokus belajar untuk menghadapi UN, padahal menurut Yadi jika
siswa terus-terusan belajar maka akan merasa stres dan juga jenuh. Tapi itulah
peraturan seklah, apa boleh buat? kami harus mengikutinya. Maka kami bertiga dan
siswa lainnya pun mau tidak mau akan berhenti mengikuti ekskul. Tetapi tetap
saja jika hari besar kamilah yang ditugaskan untuk menjadi tim pengibar
bendera, tanpa kami upacara tidak akan berjalan dengan mulus hehe.
Ketika
pertemuan paskib yang diadakan pada kamis sore di sekolah, kami mengadakan
briving mengenai pelepasan angkatan kami danangkatan kami tidak lagi menjabat
sebagai senior, jabatan senior akan digantikan oleh junior kami yaitu siswa
kelas 8.
Ketika
briving berlangsung tiba-tiba Yadi tidak terima dengan peraturan sekolah. “Apa-apaan? Kenapa ekskul
ga boleh buat kelas 9? Gua ga setuju, prestasi kita ga bakalan turun walaupun
kita masih ikut ekskul paskib.”
“sudahlah
di, kita sebagai siswa bisa apa? Kalau kita protes ke kepala sekolah pun mereka
tidak akan meladdeni kita.” Mamat berusaha menenangkan Yadi, sambil
menepuk-nepuh bahu Yadi.
Ketika
perjalanan pulang, Yadi masih saja belum menerima peraturan sekolah. “gua masih
kesel, Bro, sekolah melarang siswa ekskul dengan alasan prestasi siswa akan
terganggu, tapi kenyataannya? Dari kelas 8 kita selalu dapet peringkat 5 besar,
gua peringkat 3 di kelas, si Rofiq peringkat 1 dan elu peringkat 2nya mat,
walaupun kita sibuk di paskib, kita yang menguasai rangking teratas di kelas
toh?.”
“jadi
gini di, sekolah ga mau ambil resiko untuk angkatan kita, memang ga adil
rasanya jika angkatan kita ga diperbolehkan ekskul, ga kaya angkatan tahun
lalu. Tapi lihatlah kenyataannya, angkatan tahun lalu sekolah kita meraih
peringkat terbawah, mungkin ini yang menjadi alasan sekolah agar angkatan kita ga
terpuruk seperti angkatan lalu.” Yadi terdiam mendengar perkataanku dan
memperlambat langkahnya.
“ayo
lah cepet jalannya, ga usah ngomong mulu. mama gua udah nunggu nih di rumah.”
Mamat terlihat kesal karena Yadi terlalu sering mengeluh.
Kami bertiga mempercepat langkah bergegas untuk pulang ke rumah, karena matahari hampir tenggelam di ujung barat.
Kami bertiga mempercepat langkah bergegas untuk pulang ke rumah, karena matahari hampir tenggelam di ujung barat.
Setelah
beberapa lama kami tidak kumpul dengan teman-teman paskibra persahabatan kami
menjadi retak.
Masing-masing
dari kami mulai lupa diri, kami sibuk dengan masalahnya masing-masing. Mulai
dariku, di kelas 9 walaupun aku sudah tidak menjadi anggota paskibra lagi
tetapi fansku masih banyak(true story, bukannya sombong hehe).
Bukan
aku saja yang memiliki masalah, tetapi Yadi juga semenjak bertemu teman baru,
ia mulai melupakan aku dan Mamat. Ia lebih sering bermain dengan kawan barunya
dibanding dengan kita berdua, dengan alasan aku yang menjadi penyebabnya, dengan
menuduh aku yang melupakan Ia dan Mamat, karena aku lebih sering merespon fansku.
Karena
keegoisan, persahabatan kami menjadi retak, dan masing-masing dari kami
menerima imbasnya. Imbas yang paling parah adalah pada Mamat, karena ia tidak
pandai dalam bergaul, tanpa kami ia tidak memiliki teman yang akrab.
Tetapi
Mamat tidak tinggal diam melihat persahabatan kita retak, ia meminta bantuan
teman-teman angkatan paskibra yang lain untuk menyatukan persahabatan kami, ia
tahu bahwa dengan menyangkut pautkan paskibra persahabatan kami bisa kembali
seperti dahulu. Teman-teman paskibra memiliki cara tersendiri untuk
mempersatukan kami, karena mereka tahu pentingnya rasa kebersamaan dan
persahabatan. Akhirnya mereka membujuk kami untuk bersatu kembali, dan itu pun
berhasil. Aku dan Yadi mengakui kesalahaan dan keegoisan kami.
Kami
bersyukur persahabatan kami kembali membaik seperti semula. Sekarang kami punya
cara tersendiri untuk mempererat persahabatan, yaitu dengan cara belajar
bersama setiap ada waktu luang dan juga setiap weekend, mengingat kami sudah
kelas 9 dan sebentar lagi kami akan menghadapi UN. Dan kami berjuang dan
berusaha bersama serta berharap bahwa kami bisa mendapatkan hasil UN
setinggi-tingginya dan bisa satu sekolah lagi di SMA.
Alhamdulillah
hasil UN kami meraih nilai yang memuaskan dan kami semua diterima di SMA
Negeri, tetapi hanya saja kami tidak dipersatukan kembali dalam satu sekolah.
Tetapi kami tetap bersyukur atas semua yang kami raih.
Mengingat
itu semua aku ingin persahabatan ini kembali terulang seperti dahulu, tetapi
aku tahu waktu tidak bisa terulang lagi. Mungkin sekarang mereka sudah sibuk
mengejar prestasi mereka masing-masing. Berkumpul bersama mereka seperti dahulu
sulit rasanya, seperti ada rasa canggung di dalam hati, berbeda tidak seperti
dahulu. Dan sekarang hanya bisa berkata, “See You On Top, Guys!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar