Senin, 25 September 2017

cerpen berisi curhatan :v

Rindu Seorang Pembaris
(Subekti Ainur Rofiq)
Aku adalah seorang pemuda bernama Rofiq, aku lahir di Jakarta, tetapi aku dibesarkan dalam lingkungan Budaya Jawa, karena kedua orang tuaku berasal dari Jawa Tengah. Dari kecil aku selalu diajarkan oleh orang tuaku tentang pentingnya sopan santun dan menjunjung tinggi toto kromo yang baik terhadap sesama, itu merupakan suatu karakter khas dari masyarakat Suku Jawa. Bukan hanya hubungan baik terhadap sesama manusia saja, tetapi juga aku tidak melupakan Allah subhanahu wa ta’ala sang pencipta dengan beribadah  kepada-Nya. Aku sangat mudah bersosialisasi dengan orang lain dan juga memiliki banyak teman, walaupun begitu tetapi aku hanya  memiliki dua sahabat terdekat yang menurutku penting di dalam hidupku, aku yang sekarang duduk di bangku SMA tiba-tiba teringat dan rindu dengan mereka.
Kegiatan MOS SMP (masa orientasi sekolah sekarang MPLS ) pun sudah dimulai, aku menjadi salah satu peserta MOS. Sekolahku tidak jauh dari rumahku, jadi aku bisa santai ketika berangkat dan pulang sekolah, ketika mos aku bertemu wajah-wajah asing yang belum aku kenal walaupun ada juga teman se-sd tapi tidak terlalu banyak, walaupun begitu aku merasa biasa saja karena aku mudah sekali akrab dengan siapa saja. Seiring berjalannya waktu, aku semakin akrab dengan teman baru, aku tidak memandang latar belakang mereka, siapa saja aku bias berteman, dari anak nakal, anak metal, anak gaoel sampai anak pintar yang biasanya disebut sebagai kutu buku, dan juga anak biasa-biasa saja sepertiku. Ketika mos berlangsung aku mulai tertarik dengan suasana kelas, walaupun baru sehari bertemu tetapi langsung hidup suasananya, salah satunya ketika teman baruku, Yadi yang mukanya biasa saja, tetapi mukanya melas dan juga ngeselin seperti tampang copet, tetapi agak mirip dengan pelawak.
Pada saat itu ketika kakak osis yang memandu MOS sedang berbicara didepan kelas, tiba-tiba ia marah-marah dengan salah satu murid ternyata ia marah kepada Yadi, ” kamu ngapain ngetawain saya? Emangnya ada yang lucu? Kalo ada yang ngomong didepan itu didengerin bukan diketawain”. Marah kakak osis itu dengan nada tinggi.
Yadi sontak kaget, dan seluruh siswa yang ada di kelas juga kaget, “hah… ssss..siapa kak? Saya ga ketawa, bibir saya lagi sariawan jadi kaya orang ketawa”. Jawab jayadi dengan tegang.
“ngejawab aja lagi kamu, saya tau tadi itu kamu ngetawain saya, ga usah ngeles kamu”. Jawab kakak osis itu.
 Kringggggggggg…….. bel pulang sudah berbunyi, MOS hari pertama sudah selesai, bel pulang mencairkan suasana, menjadi tidak tegang.
Hari-hari mos sudah kulewati, aku semakin akrab dengan teman temanku, banyak dari mereka yang bercerita tentang kehidupannya di sd dan mengapa mereka memilih SMP ini, dan juga banyak pergaulan yang asing menurutku, aku yang tidak pilah-pilih dalam berteman malah kebablasan bergaul, memang tidakada salahnya bergaul dangan siapa saja.
Sabtu pagi, hari libur sekolah tetapi tidak untuk ekskul. Pada saat itu, aku memilih ekskul marching band disitu juga Yadi memiilih ekskul yang sama, aku semakin akrab dengan Yadi, berlatih bersama dengan teman-teman lainnya.  ketika selesai  ada salah satu kelihatannya si anak nakal dia tiba-tiba menyeletuk mengajak nongkrong, teman temanku yang lain pun setuju dengannya dan mau ikut nongkrong, tetapi  tinggal aku Yadi yang belum memutuskan mau ikut atau tidak. Keputusan Yadi sudah bulat ia tidak mau ikut, tetapi aku masih labil, teman-temanku yang lain mengomporiku agar aku mengikuti mereka dengan alasan supaya bisa lebih akrab main bersama, tetapi Yadi membisikkanku agar aku tidak ikut, menurut dia ngapain ikut kalau tujuannya tidak jelas. Tetapi aku memutuskan untuk ikut teman-temanku yang lain.
Aku diajak teman-temanku kesuatu tempat kosong di sekitar belakang sekolah dan tidak jauh dari rumahku, sesampainya disana salah satu temanku bernama Dodo mengeluarkan sebungkus rokok, dia memberikan sebatang rokok untuk setiap anak termasuk aku. Aku yang seumur hidup belum pernah merokok merasa heran dan takut untuk melakukannya, ternyata benar perkataan Yadi  kalau ga ada tujuan yang jelas mending ga usah ikut. Pikiranku semakin kacau karena aku baru menyadarinya kalau lokasi tempat nongkrong tidak terlalu jauh dengan rumahku
”Duhh gimana nih kalo nanti  ada abang gua lewat atau orang tua gua tau bisa gawat ini.” Ucapku dalam hati.
Kemudian aku mencari cara untuk pergi dari tempat ini. Aku berpura-pura mengecek ponselku dengan alasan orang tuaku menyuruhku pulang karena ada kepentingan darurat. Asap rokok semakin mengebul seperti kebakaran hutan di Riau karena semua teman-temanku sudah menyalakan rokoknya. Tinggal aku sendiri yang belum menyalakan rokok. Hanya aku yang diam di sana, karena memikirkan bagaimana caranya agar aku menghindar dari mereka yang sedang merokok. Teman-temanku juga mulai memperhatikanku dan rokok yang sedang aku pegang.
“Lu kenapa fiq diem aja? Bukannya dibakar tuh rokok, malah dianggurin aja.” Tanya Arifin teman akrabnya Dodo yang dari tadi memperhatikanku.
Kemudian aku memberanikan diri untuk bilang ke temanku yang sedang asik merokok. ”ohh engga bro… btw, sorry ya gua pulang duluan, soalnya orang tua gua tadi sms ada kepentingan darurat.”
“Yahhh.. baru sebentar, udah pulang aja.” jawab si Dodo yang sedang duduk santai di samping Arifin sambil mengeluarkan asap rokok dari hidungnya.

 “hehe, iya nih, Do, orang tua gua yang manggil soalnya, nih rokoknya buat lu aja,” perkataan terakhirku berusaha untuk menghindari mereka dan mengembalikan rokok. Kemudaian aku bergegas untuk pulang.
Hari senin pun tiba, saat bel istirahat aku melamun di kelas, tidak seperti biasanya, tiba-tiba Yadi menepuk pundakku, dan itu membuatku kaget “ngapain lu pagi pagi udah bengong? Abis diputusin cewe?” Tanya Yadi membuatku kaget.
“Gua masih kepikiran kemarin waktu nogkrong, gua diajakin ngerokok, untungnya gua bisa menghindar,”Jawabku dengan penuh penyesalan.
“Kan udah gua bilang ga usah ikut, gaada tujuan yang jelas,” Yadi menyesalkan diriku.
“Begini bro, berteman tuh boleh sama siapa aja, tapi lu harus inget jangan terlalu deket sama orang yang ga punya tujuan yang jelas.” Sambung  jayadi dengan menasehatiku.
 Aku terdiam dan berusaha mencerna perkataan Yadi. “udah gausah dipikirin, ayo anterin gua ke kantin, laper nih”. Perkataan Yadi menenangkan pikiranku.
Semakin hari aku semakin akrab dengannya, karena ia orangnya jujur dan juga lumayan pintar dan juga sederhana. sama sepertiku ia bukan anak dari kalangan elite yang biasa dengan  kemewahan, kami hanyalah orang pinggiran Jakarta yang tinggal di lingkungan padat dan kumuh, tetapi kami selalu bersyukur, walaupun anak-anak yang tinggal di lingkungan kami sangat rendah akan motivasi belajar, tetapi kami memiliki tujuan yang sama, yaitu sukses bersama dengan mengejar prestasi setinggi-tingginya.
Hari-hari pun berlalu dengan cepat, kami yang berjuang bersama dalam belajar tidak henti-hentinya bersaing dengan ketat, tapi secara sehat. Terkadang ia mendapatkan nilai lebih tinggi dariku dan kadang-kadang juga aku yang memperoleh nilai yang lebih tinggi darinya. Pada semester 1 aku kalah dengannya, ia mendapatkan pringkat 5 besar, sedangkan aku? 10 besar aja ga dapet wkwk. Oke gapapa ini baru semester awal, akan aku balas nanti di semester selanjuutnya.
UAS semester 2 pun sudah berlalu, hingga akhirnya tiba lah saat pengambilan raport semester 2. Aku yang merasa tegang  ketika menunnggu penyerahan raport oleh wali kelas. Ternyata bukan aku saja yang tegang, teman-teman yang lainnya pun juga ikuut tegang, bahkan lebih tegang dariku. Wali kelasku, sebelum penyerahan raport, Bu Ririn memberi arahan kepada orang tua yang mengambil raport anaknya, hingga pada akhirnya ia mengumumkan nama-nama anak yang mendapatkan pringkat 10 besar. Ia menyebutkan nama-nama dari pringkat 10 sampai pringkat 1. Keadaan semakin menegangkan dan membuatku tak bisa menahan keringat dingin dan rasa kebelet pipis karena namaku belum juga disebut sampai 3 besar. Sedangkan Yadi masih bertahan seperti semester lalu yaitu di pringkat ke 5. Setelah itu aku memutuskan untuk pergi ke toilet karena sudah tidak tahan. Setelah kembali dari toilet tiba-tiba teman-temanku bersorak menghampiriku dengan memberikan selamat, aku merasa heran apa yang terjadi ketika aku sedang berada di toilet.
Ahmad salah satu temanku menyeletuk, “ditunggu ya, Fiq traktirannya hehe.”
“traktiran apa? Gua kan ga ulang tahun hari ini.” Jawabku dengan bingung.
Lalu Ridwan temanku yang jago bermain bola bilang “lu dapet pringkat 1, Fiq. Ditunggu ya traktirannya!”.
Kemudian aku mengucap sukur Alhamdulillah bisa mendapatkan pringkat pertama di semester 2 ini.
Kelas 7 pun sudah berlalu, dan sekarang aku berada di kelas 8. Senang sekali bisa naik ke kels 8, tetapi aku merasa ada yang kurang, karena kelas di acak lagi sehingga aku tidak sekelas dengan Yadi. Di kelas 8 aku sekelas dengan orang yang pendiam namanya Mamat, dia orangnya pandai apalagi dalam pelajaran matimatika. Tetapi Mamat tidak pandai dalam bergaul, terkadang ia duduk menyendiri, aku pun merasa kasihan, sehingga aku berusaha untuk mengajaknya ngobrol dengannya. Terkadang juga ia menyendiri sedang mengerjakan soal matematika, pantas saja dia selalu mendapat nilai tertinggi dalam pelajaran matematika.
Aku dan Yadi yang sudah lama tidak iku ekskul marching band tiba-tiba saat istiahat jayadi mengajakku untuk ikut ekskul Paskibra. “fiq, lu ga ikut ekskul apa-apakan?”
“Nggak, Di, kan dulu kita ikut marching band dan sekarang udah berhenti. Emangnya kenapa?”   jawabku.
“Gimana kalo kita ikut ekskul paskibra?” ajak Yadi.
“Apa? Paskibra? Ga salah lu? Ga mau ah ntar gua item kaya lu.” Jawabku menolak mentah begitu saja.
“Yaudah kalo ga mau, biar nanti kalo ada cewek cakep di paskib biar buat gua aja.” Jawab Yadi dengan nada yang sepertinya agak ngambek karena aku ga mau ikut.
Cuaca di luar kelas sangat panas ditambah suara bel yang bising membuatku semakin muak dengan tawaran Yadi mengenai Paskibra.
Ketika bel pulang sekolah.“Fiq, lu ikut ekskul apa? Tanya Mamat yang membuatku heran karena ia jarang sekali bertanya sebelumnya.
”Gua ga ikut ekskul ap-apa mat” jawabku dengan heran.
“Hmmm.. gua mau ikut ekskul Paskib nih soalnya badan gua lumayan tinggi kayanya itu cocok buat gua.”Ucap Mamat.
“Ohh… lu pengen masuk Paskib, Mat, nanti gua tanyain temen gua dia juga mau masuk paskib.” Jawabku.
“eh.. itu Yadi temen gua yang mau daftar paskib, ayo ikut gua!” sambungku, sambil menunjuk lapangan dan mengajak Mamat untuk bertemu Yadi di lapanngan.
Yadi dan Mamat telah resmi menjadi anak paskibra, tinggal aku seorang yang belum ikut ekskul apa-apa. “it’s okay gua ga ikut ekskul apa-apa, setidaknya gua bisa belajar dengan tenang, ga buang-buang waktu dan juga ga buang-buang tenaga lebih ekstra.” Ucapku ketika ketika selesai mengerjakan pr. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.00, aku bergegas untuk siap-siap tidur tetapi tidak lupa menggosok gigi dan berwudhu ketika mau tidur.
Keesokan harinya setelah pulang sekolah, aku melihat pasukan paskibra sedang berlatih paskib bersama dibawah terik matahari sore dan juga disana ada Mamat dan Yadi. aku pun berfikir bahwa berlatih bersama di paskib bisa mempererat tali persahabatan, kemudian aku memutuskan untuk mencoba ikut ekskul paskib.
Sekarang aku resmi menjadi anak paskib seperti Mamat dan Yadi. Setelah beberapa lama aku mengikuti ekskul  paskib, dan juga bisa menguasai gerakan paskib 12 gerakan dasar(sikap sempurna, istirahat, lencang kanan, lencang depan, berhitung, hadap kanan, hadap kiri, balik kanan, hadap serong kanan, hadap serong kiri, jalan di tempat, dan hormat)  ternyata itu tidak buruk, tidak seperti yang aku pikirkan sebelumnya. Karena pikiran manusia itu selalu berubah-ubah, alangkah baiknya jika dicoba dahulu baru memberi komentar hehe. Menurutku walaupun paskib latihannya panas-panasan bikin item bikin capek dan juga apa-apa ada aturannya tapi banyak pelajaran yang dapat diambil dari semua itu, terutama rasa kerbersamaaan lebih terasa, melatih kedisiplinan, dan juga bisa membuat bangga ketika berhasil mengibarkan sang saka Merah Putih, yang ga kalah pentingnya adalah mendapatkan banyak fans, menjadi pembaris yang hits hehe…
Hari-haripun kita lewati bersama dan sampai saat kini Aku, Mamat, dan Yadi pun menjadi sahabat. serasa Paskibra menyatukan kami bertiga, aku bersyukur mengikuti ekskul Paskibra dan bisa bersahabat dengan mereka. Latihan kami jalani bersama, lelah, letih, dan panas yang terik kami jalani bersama, kami sudah siap menanggung semua itu. Biasanya kami bertiga setelah pulang Ekskul makan bareng di luar dan terkadang juga di rumahku, karena rumahku-lah yang paling dekat dengan sekolah dibanding mereka berdua, itu bisa mempererat rasa kebersamaan menurutku.
Tak terasa persahabatan kami telah berlangsung selama satu tahun,  kini kami telah menginjak di kelas 9, sebagai siswa kelas 9 kami dan teman-teman lainnya pasti akan menghadapi berbagai ujian, mulai dari UAS, Try Out, US, dan yang terakhir adalah UN, yang menjadi momok menakutkan bagi siswa di jenjang akhir seperti kelas 6, 9, dan 12. Peraturan di sekolahhku melarang siswa aktif ekskul di kelas 9 dengan berdalih agar siswa tetap fokus belajar untuk menghadapi UN, padahal menurut Yadi jika siswa terus-terusan belajar maka akan merasa stres dan juga jenuh. Tapi itulah peraturan seklah, apa boleh buat? kami harus mengikutinya. Maka kami bertiga dan siswa lainnya pun mau tidak mau akan berhenti mengikuti ekskul. Tetapi tetap saja jika hari besar kamilah yang ditugaskan untuk menjadi tim pengibar bendera, tanpa kami upacara tidak akan berjalan dengan mulus hehe.
Ketika pertemuan paskib yang diadakan pada kamis sore di sekolah, kami mengadakan briving mengenai pelepasan angkatan kami danangkatan kami tidak lagi menjabat sebagai senior, jabatan senior akan digantikan oleh junior kami yaitu siswa kelas 8.
Ketika briving berlangsung tiba-tiba Yadi tidak terima dengan  peraturan sekolah. “Apa-apaan? Kenapa ekskul ga boleh buat kelas 9? Gua ga setuju, prestasi kita ga bakalan turun walaupun kita masih ikut ekskul paskib.” 
“sudahlah di, kita sebagai siswa bisa apa? Kalau kita protes ke kepala sekolah pun mereka tidak akan meladdeni kita.” Mamat berusaha menenangkan Yadi, sambil menepuk-nepuh bahu Yadi.
Ketika perjalanan pulang, Yadi masih saja belum menerima peraturan sekolah. “gua masih kesel, Bro, sekolah melarang siswa ekskul dengan alasan prestasi siswa akan terganggu, tapi kenyataannya? Dari kelas 8 kita selalu dapet peringkat 5 besar, gua peringkat 3 di kelas, si Rofiq peringkat 1 dan elu peringkat 2nya mat, walaupun kita sibuk di paskib, kita yang menguasai rangking teratas di kelas toh?.”
“jadi gini di, sekolah ga mau ambil resiko untuk angkatan kita, memang ga adil rasanya jika angkatan kita ga diperbolehkan ekskul, ga kaya angkatan tahun lalu. Tapi lihatlah kenyataannya, angkatan tahun lalu sekolah kita meraih peringkat terbawah, mungkin ini yang menjadi alasan sekolah agar angkatan kita ga terpuruk seperti angkatan lalu.” Yadi terdiam mendengar perkataanku dan memperlambat langkahnya.
“ayo lah cepet jalannya, ga usah ngomong mulu. mama gua udah nunggu nih di rumah.” Mamat terlihat kesal karena Yadi terlalu sering mengeluh.
Kami bertiga mempercepat langkah bergegas untuk pulang ke rumah, karena matahari hampir tenggelam di ujung barat.
Setelah beberapa lama kami tidak kumpul dengan teman-teman paskibra persahabatan kami menjadi retak.
Masing-masing dari kami mulai lupa diri, kami sibuk dengan masalahnya masing-masing. Mulai dariku, di kelas 9 walaupun aku sudah tidak menjadi anggota paskibra lagi tetapi fansku masih banyak(true story, bukannya sombong hehe).
Bukan aku saja yang memiliki masalah, tetapi Yadi juga semenjak bertemu teman baru, ia mulai melupakan aku dan Mamat. Ia lebih sering bermain dengan kawan barunya dibanding dengan kita berdua, dengan alasan aku yang menjadi penyebabnya, dengan menuduh aku yang melupakan Ia dan Mamat, karena aku lebih sering merespon fansku.
Karena keegoisan, persahabatan kami menjadi retak, dan masing-masing dari kami menerima imbasnya. Imbas yang paling parah adalah pada Mamat, karena ia tidak pandai dalam bergaul, tanpa kami ia tidak memiliki teman yang akrab.
Tetapi Mamat tidak tinggal diam melihat persahabatan kita retak, ia meminta bantuan teman-teman angkatan paskibra yang lain untuk menyatukan persahabatan kami, ia tahu bahwa dengan menyangkut pautkan paskibra persahabatan kami bisa kembali seperti dahulu. Teman-teman paskibra memiliki cara tersendiri untuk mempersatukan kami, karena mereka tahu pentingnya rasa kebersamaan dan persahabatan. Akhirnya mereka membujuk kami untuk bersatu kembali, dan itu pun berhasil. Aku dan Yadi mengakui kesalahaan dan keegoisan kami.
Kami bersyukur persahabatan kami kembali membaik seperti semula. Sekarang kami punya cara tersendiri untuk mempererat persahabatan, yaitu dengan cara belajar bersama setiap ada waktu luang dan juga setiap weekend, mengingat kami sudah kelas 9 dan sebentar lagi kami akan menghadapi UN. Dan kami berjuang dan berusaha bersama serta berharap bahwa kami bisa  mendapatkan hasil UN setinggi-tingginya dan bisa satu sekolah lagi di SMA.
Alhamdulillah hasil UN kami meraih nilai yang memuaskan dan kami semua diterima di SMA Negeri, tetapi hanya saja kami tidak dipersatukan kembali dalam satu sekolah. Tetapi kami tetap bersyukur atas semua yang kami raih.

Mengingat itu semua aku ingin persahabatan ini kembali terulang seperti dahulu, tetapi aku tahu waktu tidak bisa terulang lagi. Mungkin sekarang mereka sudah sibuk mengejar prestasi mereka masing-masing. Berkumpul bersama mereka seperti dahulu sulit rasanya, seperti ada rasa canggung di dalam hati, berbeda tidak seperti dahulu. Dan sekarang hanya bisa berkata, “See You On Top, Guys!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

cerpen berisi curhatan :v

Rindu Seorang Pembaris (Subekti Ainur Rofiq) Aku adalah seorang pemuda bernama Rofiq, aku lahir di Jakarta, tetapi aku dibesarkan dala...